Memories from AIESEC IPB
Aku di masa yang akan datang
ingin mengubah dunia di sekelilingku lebih baik lagi. Selama 20 tahun, aku banyak
sekali melihat ketidakadilan di dunia ini. Kemiskinan. Kelaparan. Kriminal. Dan
sebagainya. Aku ingin kita lebih intropeksi diri di tahun ini, yaitu sebagai
individu-individu yang memiliki hati nurani dan empati pada lingkungan sekitar.
In many ways, banyak cara yang sudah kulakukan. Salah satunya
adalah mengikuti program volunteer di kampus dambaan hatiku. Programnya ada dua
tetapi memiliki satu tema, yaitu Clean
Sanitation. Kita, sebagai member volunteer ini, diajarkan untuk mendukung
gerakan SDG ke-6 kepada anak-anak kecil dan warga sekitar Bogor. Kebetulan, aku
mendapat bagian mengenalkan rasa cinta lingkungan kepada anak-anak kecil. Kami terbagi menjadi 4
kelompok dan tiap kelompok terdiri dari 3 orang. Aku bersama dua temanku
melangkahkan kedua kakiku menuju ruang kelas 3 SD.
Disana, aku melihat anak-anak nan mungil dan polos menatap kami tanpa penuh arti. Pada hari itu, aku pertama
kalinya melakukan public speaking ku.
Aku coba sebisa mungkin menarik suaraku agar anak-anak yang lain dapat
mendengarnya. Dari sekian anak di kelas
tersebut, ada satu anak yang membuatku terkesan. Namanya Agung. Dicirikan
dengan badannya yang gemuk, kulitnya yang sawo matang, matanya yang sedikit kecil seperti mata ikan. Sepertinya, semua temannya pun senang
berteman dengannya karena aksi jenakanya itu. Selama di kelas, ia adalah anak
yang genit dan caper. Ia selalu menjawab pertanyaan kami demi sebuah permen as a reward. How adorable!!
Belajar dari Agung, aku bukannya
menjadi tambah kekanak-kanakan karena aku belajar hal yang baru dari anak dibawah umur, malahan bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa
dan tangguh. Tingkah polosnya mengajarkanku bahwa kehidupan ini harus dihadapi
dengan senyuman dan gelak tawa, bukan kesedihan dan kemurungan. From doing that, life would be enjoyable to
face for us, right?
Senja mulai tiba, dan kami bergegas ke rumah kami masing-masing. Atau mungkin kuliah lagi. Kami lalu menaiki angkot sewaan kami. Mungkin ada beberapa teman-temanku yang menaiki motor dan dibonceng oleh temannya. Menuruni jalan yang terjal, berkelok-kelok, dan berbatu-batu. Kami pun sudah sampai di Dramaga, sentra produk manisan di Bogor.
Komentar
Posting Komentar